Sabtu, 09 April 2011

Kebutuhan Formasi PNS Masih Dihitung

PNS

Berbeda dengan sebagian Kabupaten/Kota yang sudah mengajukan formasi CPNS 2011 ke pusat, hingga saat ini jajaran Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Padangpariaman masih terus melakukan penghitungan terkait penambahan formasi PNS di lingkungan Pemkab Padangpariaman. Pasalnya untuk formasi CPNS kali ini BKD Padang pariaman akan mengkaji betul jenjang pendidikan dengan kepangkatan yang tersedia agar tepat sasaran.

"Proses penghitungan yang dilakukan saat ini memang relatif lebih membutuhkan waktu, karena didalamnya tidak hanya menghitung jumlah formasi yang perlu ditambah tapi juga menyangkut kebutuhan formasi sesuai dengan jenjang pendidikan dan kepangkatan yang tersedia, namun demikian diperkirakan hasilnya sudah bisa masuk pada bulan ini juga," Papar Kepala BKD Pemkab Padangpariaman, Muhadek Salman.

Muhadek menegaskan, ke depan sistem pendidikan yang diikuti oleh para PNS akan diatur secara khusus melalui peraturan bupati. Hal itu disebabkan selama ini sistem pendidikan yang diikuti PNS lebih terkosentrasi pada bidang atau kualifikasi pendidikan tertentu saja.

Akibatnya terjadi penumpukan pada bidang tertentu. Sementara untuk formasi yang lain justru tidak terisi semestinya sesuai kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan. "Lantaran kurang memplajari jenjang pendidikan dan formasi yang kosong CPNS yang drekrutter kadang tidak sesuai dengan kemampuan yang diharapkan," ungkapnya.

Sementara dengan meningkatnya kualifikasi pendidikan tersebut juga berakibat meningkatnya penyesuaian kepangkatan. "Karena itulah ke depan sistem kependidikan yang ditempuh oleh PNS selanjutnya akan diatur secara khusus melalui peraturan bupati," ungkapnya.

[ Red/Husnal Hayati /courtesy: padang-today.com]

Anggota DPR Berporno Ria di Paripurna

anggota dpr berporno ria

Padangnews.com-Seorang anggota DPR berinisial Af yang tengah asyik membuka gambar dan film porno dari komputer tablet Samsung Galaxy Tab, tertangkap basah kamera pewarta foto. Yang lebih tak lazim lagi, anggota DPR penyandang gelar "Yang Terhormat" itu tengah membuka folder berisi gambar porno pada saat paripurna DPR yang digelar Jumat (8/4).

Adapun fotografer yang jeli menjepret ulah Af adalah M Irfan yang bekerja pada sebuah media harian di Jakarta. Af yang terlihat asyik membuka-buka folder porno dari komputer tabletnya itu sama sekali tak sadar ketika ada kamera M Irfan membidiknya.

Alhasil, foto Af yang disebut berasal dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) itupun langung beredar. Foto Af yang tengah memelototi gambar cabul itu langsung beredar dari pesan layanan singkat BlackBerry Messenger.

Dalam foto hasil jepretan M Irfan, politisi DPR yang disebut memiliki nomor anggota DPR A-72 itu terlihat menunduk memelototi komputer tabletnya. Sementara dari komputer tablet itu terlihat gambar cabul.

Af asyik melihat gambar-gambar mesum, saat paripurna DPR yang dipimpin Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso itu tengah mendengarkan pembacaan laporan akhir DPR RI sebelum meamasuki masa reses. (ara/jpnn)

Rabu, 06 April 2011

Indonesia Bisa Jadi Pusat Halal Dunia


Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, Makanan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI) berencana menjadikan Indonesia sebagai pusat halal dunia.

Rencana tersebut diungkapkan Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim dalam seminar "Ketersediaan Kuliner Halal dalam Menyukseskan Visit Indonesia", di Jakarta Rabu, (6/4/2011).

Untuk menyukseskan rencana tersebut, LPPOM MUI akan menyelenggarakan Indonesia Halal Exebition di bulan Juni pada tanggal 24-26 Juni mendatang. Acara ini kata Lukmanul bakal di hadiri oleh beberapa negara.

"Kami ingin menunjukan bahwa Indonesia start halal itu harusnya dari negara yang komunitas muslimnya terbesar," ungkap Lukmanul.

Menurut Lukmanul, ada tiga hal utama yang menjadi pertimbangan dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat halal dunia. Yang pertama adalah standar. Untuk saat ini, standar halal Indonesia sudah diterima dan diakui bahkan diimplementasikan lebih di 43 lembaga dunia dari 22 negara di antaranya, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Brazil dan Belanda.

Hal kedua adalah perdagangan halal dapat dimulai dari Indonesia. Artinya, bahan-bahan halal itu dapat bersumber dari Indonesia. "Jadi, masuk dan keluar makanan itu dari dan ke Indonesia," jelasnya.

Sedangkan hal yang ketiga adalah merasakan atmosfer halal di Indonesia. Lukmanul bilang, arti atmosfer halal di sini bukan berarti semua harus halal. Melainkan terindentifikasi dan terinformasikan secara jelas.

"Mana yang halal mana yang non halal, itu yang paling penting. Jadi atmosfer itu terasa di Indonesia," tutur Lukmanul.

Lebih lanjut Lukmanul mengatakan, bahwa halal dan sehat itu berbeda. "Halal itu sehat, sehat itu belum tentu halal," pungkasnya.

LPPOM MUI memandang, Indonesia merupakan tujuan wisata dari turis mancanegara, termasuk kawasan Timur Tengah (negara-negara islam) sehingga perlu menyediakan segala kebutuhannya termasuk kuliner yang halal.(kompas)

Khadafy di Mata Si Seksi Balynskaya


Padang news.com-Oksana Balynskaya, wanita sensual dan perawat Moammar Khadafy asal Ukraina yang meninggalkan Libya untuk kembali ke tanah airnya dua bulan lalu, bercerita bahwa Khadafy dalam usia 70 tahun telah mengubah penampilannya.

"Siapa pun bakal tidak percaya atau pangling menyaksikan Khadafy secara fisik, sangat berubah, lebih segar," katanya.

Oksana Balynskaya merupakan satu dari empat perawat asal Ukraina yang melayani Khadafy. Wanita seksi ini kembali ke ibu kota Ukraina, Kiev, pada Februari lalu menggunakan pesawat militer bersama 185 pengungsi lainnya, termasuk Galyna Kolotnytska.

Kolotnytska digambarkan oleh diplomat Amerika Serikat sebagai wanita cantik nan sensual berambut pirang kepercayaan Khadafy.

"Meskipun umurnya tua, Khadafy terlihat bugar. Dia merawat dirinya sendiri dan menjalani pemeriksaan kesehatan setiap tahun," kata Balynskaya kepada tabloid Komsomolskaya Pravda Rusia.

Balynskaya tinggal di Libya selama dua tahun dan menyangkal menjadi salah satu wanita kepercayaan, yang dekat dengan Khadafy.

Dari bocoran kawat Kedutaan Besar AS mengatakan bahwa Khadafy tidak dapat bepergian tanpa Kolotnytska karena hanya wanita ini yang mengetahui jadwal rutinnya.

Balynskaya juga menyangkal kabar bahwa satu dari tujuh anak Khadafy, Khamis, telah tewas akibat luka bakar pada Maret. "Dia masih hidup dan sehat," ungkap Balynskaya.

Balynskaya menceritakan satu kisah perjalanan yang tidak direncanakan ke New York bersama Khadafy– ang biasa dipanggil Papa olehnya.

Saat itu, Khadafy sangat perhatian dan royal. Ia selalu memberi sejumlah uang kepada semua perawatnya agar mereka dapat pergi berbelanja.

Balynskaya sangat menikmati status khusus yang berada di sekitar Khadafy. "Luar biasa ini seperti sesuatu yang sangat pribadi. Kamu hanya dapat memberitahunya kepada seseorang yang hanya bekerja untuk Papa," katanya.

"Pada setiap 1 September, tanggal di mana Khadafy memperingati kekuasaannya, kami diberikan arloji emas asal Italia dengan gambar Papa di dalamnya. Warga yang telah bekerja kepada dia selama 6 atau 8 tahun telah mendapat seluruh koleksinya," kata Balynskaya.

Balynskaya mengaku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Papa. "Papa sedang sibuk dengan urusan lain," katanya.

Hingga kini Khadafy masih berkuasa dan Pemerintah Libya mengatakan, Selasa (5/4/2011), mereka siap menggelar perundingan, dengan syarat Khadafy tetap menjadi pemimpin besar.
sumber: kompas,
ANT, RIA Novosti, OANA, www.allvoices.com

Percetakan Uang Palsu Terbongkar

Uang Palsu

Praktek percetakan uang palsu kembali terbongkar di Kota Payakumbuh, Sumbar. Kali ini, uang palsu yang dicetak adalah uang pecahan Rp50 ribu. Jumlah yang sudah berhasil dicetak mencapai Rp42 juta. Sedangkan proses pembuatannya, melibatkan mantan anggota TNI dan sindikat
pengedar ganja antar kota di pulau Sumatera.

Kapolres Payakumbuh AKBP S Erlangga kepada Padang Ekspres mengatakan, praktek percetakan uang palsu di wilayah hukumnya, terbongkar berkat kerjasama Satreskrim dan Satnarkoba Polres Payakumbuh, dengan Satreskrim Polres Mandahiling Natal, Sumatera Utara.

"Dalam kasus ini, Polres Payakumbuh dan Polres Mandahiling Natal, sudah menetapkan empat tersangka. Tiga diantaranya sudah berhasil diamankan. Sedangkan satu tersangka lain masih buron," kata AKBP S Erlangga didampingi Kasat Reskrim Polres Payakumbuh AKP Basrial dan Kasat Reskrim Polres Mandahiling Natal AKP HS Siregar di Mapolres Payakumbuh, Selasa (5/4) sore.

Tiga tersangka yang sudah berhasil ditangkap polisi bernama Romli, 26, Sutomo, dan Harryke Julio Ferdo alias Edo, 21. Mereka memiliki latar belakang berbeda. Tersangka Romli diketahui sebagai bekas anggota TNI AD. Dia dipecat dari kesatuannya Batalyon Infanteri 131 Brajasakti, Payakumbuh, dengan pangkat terakhir Prada.

Sedangkan Sutomo adalah seorang montir sekaligus anggota sindikat pengedar ganja asal Kota Penyabungan, Mandahiling Natal. Adapun tersangka Harryke Joelio Ferdo alias Edo, 21 adalah warag Bulakan Bulakan Balai Kandi, Kecamatan Payakumbuh Barat yang dikenal ahli dalam meracik uang palsu.

Sementara satu tersangka lain yang kabur diketahui berinisial "A" asal Kota Payakumbuh, Sumbar. "Sekarang, keberadaan tersangka yang kabur ini sudah mulai terdeteksi. Tim Polres Mandahiling Natal dan tim Polres Payakumbuh sedang mengejarnya," imbuh Erlangga.


Untuk Bisnis Ganja
Kasus percetakan uang palsu sendiri berdasarkan catatan Padang Ekspres, merupakan kasus ketiga yang berhasil dibongkar Polres Payakumbuh dalam empat tahun terakhir. Dua kasus sebelumnya terjadi Juli 2008 di Kelurahan Padang Tiaka Hilia, Kecamatan Payakumbuh Timur, dan September 2009 Kelurahan Ibuah, Kecamatan Payakumbuh Barat.

Khusus kasus yang dibongkar sekarang, merupakan kasus percetakan uang palsu dengan kronologi cukup panjang. Awalnya, tersangka Romli dan tersangka "A" yang menyandang status buronan, berkenalan dengan tersangka Edo. Mereka diperkenalkan oleh kakak kandung Edo yang menjadi saksi dalam kasus ini.

Usai perkenalan tersebut, mereka berencana membuat uang palsu. Agar rencana berjalan mulus, Rabu (30/3) pekan lalu, Romli memberi Edo uang sebesar Rp2 juta untuk membeli printer di Bukittinggi.

Setelah printer dibeli, Romli langsung mencetak uang palsu di rumahnya kawasan Bulakan Balai Kandi. Ada enam lembar uang pecahan Rp50 ribu yang dipalsukan. Masing-masing memiliki nomor seri GKW 946204, AHH 901183, AG 2420361, LKD 621546, AGM 358642, dan FMK 568167.

Hanya dalam tempo dua hari, Edo berhasil mencetak uang palsu senilai Rp42 juta. Uang tersebut akhirnya diserahkan Edo bersama kakaknya kepada Romli yang sudah menunggu di pertigaan Jalan Soekarno-Hatta, persisnya di simpang Pakan Sinayan, Payakumbuh Barat (simpang Jalan Lingkar Utara).

Usai memperoleh uang palsu, Romli dan rekannya "A" langsung bertolak ke Penyabungan, Mandahiling Natal, Sumatera Utara. Kepada Edo, Romlimengaku hendak membeli ganja kering dengan uang palsu. Tapi kepada polisi, Romli berdalih hendak berbisnis pupuk. Baru setelah keduanya dikonfrontir, Romli mengaku memang datang ke Penyabungan membeli ganja.

Sesampai di Kota Penyabungan, Romli bersama "A" langsung menemui Sutomo, montir yang memiliki hubungan bagus dengan sindikat pengedar ganja. Setelah bertemu, Senin (4/4) sekitar pukul 04.00 dini hari, mereka berniat melakukan transaksi. Tapi belum sempat transaksi terjadi, tim Buser Polres Penyabungan sudah duluan menangkap.

"Dari penangkapan itupula, kita tahu bahwa Romli mencetak uang palsu di Payakumbuh. Makanya, kita kordinasi dengan Satreskrim Payakumbuh untuk mengamankan rekannya Edo. Ternyata, Edo ini sudah digerebek pula oleh Satnarkoba Polres Payakumbuh atas kasus dugaan ganja. Tentu saja hal ini memudahkan kita, " kata Kasat Reskrim Polres Mandahiling Natal AKP HS Siregar di Mapolres Payakumbuh, kemarin sore.

AKP HS Siregar bersama sejumlah anggotanya sengaja datang ke Payakumbuh, selain untuk mengkonfrontir tersangka Romli dan Edo, juga untuk membagi penanganan perkara. Rencannya, kasus Romli dan Sutomo akan ditangani penyidik Polres Mandahiling. Sedangkan kasus Edo ditangani penyidik Polres Payakumbuh. []
courtesy: http://www.padang-today.com/?mod=berita&today=detil&id=27046

100 Kafe di Jalan Samudera Dibongkar

Lokasi Simulasi Bencana  Anggota Satpol PP merubuhkan 100 kafe sepanjang kawasanpadang news.com,—Sedikitnya 100 kafe di sepanjang kawasan pantai Purus, kemarin (5/4) dibongkar sendiri oleh pemiliknya. Pasalnya lokasi tersebut akan dijadikan tempat simulasi penanggulangan bencana pada 9-14 April mendatang.


Pembongkaran secara sukarela kafe di dekat kawasan Danau Cimpago itu, dilakukan warga menindaklanjuti surat edaran, dan sosialisasi dari Pemko dan Dinas Pariwisata Kota Padang.


“Pembongkaran kafe-kafe ini, dilakukan setelah adanya imbauan dari Pemko dan Dinas Pariwisata, untuk simulasi bencana,” kata Deri, salah seorang pedagang, kemarin.Mereka membongkar, kata Deri, juga karena percaya dengan janji Wali Kota Padang Fauzi Bahar yang membolehkan pedagang kembali berdagang, setelah simulasi selesai dilakukan.


“Malam Minggu kemarin (2/4), Wali Kota Padang langsung turun menemui semua pedagang di sini. Pak Wali juga berjanji, kami dibolehkan berdagang lagi setelah simulasi selesai. Berdasarkan janji itulah kami mau membongkar kafe-kafe kami dengan sukarela,” jelasnya. (di)

courtesy: http://www.padangeksspres.co.id


Surat Pembaca ”Tulisan Plagiat Zennis Helen”

Setelah menelaah dan membandingkan secara seksama, kami berkesimpulan bahwa tulisan Zennis Helen (Staf Pengajar di STIH YAPPAS Lubuk Sikaping, dan Peneliti di Yayasan Bina Mulia (YABIM) Pasaman) berjudul “Relasi Ideal Presiden-Parlemen” yang dimuat di website harian Padang Today (Link: http://www.padang-today.com/?mod=artikel&today=detil&id=47 ) pada hari sabtu tanggal 15 November 2008 adalah jiplakan (plagiat) dari tulisan Denny Indrayana di harian kompas tanggal 20 Februari 2006 yang berjudul “Presiden dan DPR, Sekutu atau Seteru” (Link: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=5483&coid=3&caid=3&gid=2 ).

Tulisan plagiat tersebut sangat mudah kami lacak karena nyaris seluruh kalimat, sub judul, hingga titik koma tulisan sama persis dengan tulisan Denny Indrayana. Untuk menyamarkan orisinalitas tulisan, Zennis Helen sengaja mengutip nama Denny Indrayana di salah satu paragraf agar seolah benar-benar mengutip dan mengaburkan muatan tulisan di paragraf lain agar seolah asli buah pikirannya.

Sewaktu kami konfirmasi melalui telpon, Zennis Helen masih saja berkelit dan membantah keras dengan mengatakan tidak pernah melakukan plagiasi. Bantahan tersebut mendorong kami untuk makin mencaritahu rekam jejak penulisan yang bersangkutan. Akhirnya, kami kembali menemukan tulisan Zennis Helen berjudul “Seandainya SBY-JK Terpilih Kembali” yang dimuat di website harian Padang Today (Link: http://padang-today.com/?mod=artikel&today=detil&id=202 ) pada hari sabtu tanggal 5 Februari 2009 adalah jiplakan (plagiat) dari tulisan Toto Sugiarto di harian Kompas tanggal 7 Januari 2009 yang berjudul “Tahun 2009, Politik Tidak Linier” (http://cetak.kompas.com/read/2009/01/07/ 00421924/tahun.2009.politik.tidak.linier ).

Kami tidak tahu apakah ada tulisan lain yang diplagiat oleh Zennis Helen. Bagi kami dua contoh plagiasi di atas saja sudah sangat disesalkan. Terlebih dalam kapasitas Zennis Helen sebagai akademisi di sebuah perguruan tinggi yang selayaknya menjaga integritas, kredibilitas dan menjadi teladan bagi anak didik. Bagi kami, plagiasi bukan semata hanya pelanggaran teknis dan kode etik penulisan karya ilmiah, tetapi sebuah “kejahatan intelektual” yang seharusnya tidak mendapatkan ruang toleransi sedikitpun.

Salam hormat,

Zamrony

Asisten Staf Khusus Presiden

Bidang Hukum, HAM dan Pemberantasan KKN

Gedung Bina Graha, Sekretariat Negara

Jl. Veteran 16 Jakarta Pusat 10000

LAMPIRAN I (Tulisan hasil plagiat)

Relasi Ideal Presiden-Parlemen
Artikel Politik Sabtu, 15/11/2008 - 16:02 WIB

Oleh : Zennis Helen 336 klik

Amien Rais mengatakan dalam suatu kesempatan bahwa DPR cenderung kembali menjadi stempel pemerintah (Kompas, 20/2/08). Kerisauan Amien Rais agaknya bermula dari kurangnya kritisnya DPR dalam menyikapi kebijakan pemerintah dalam beberapa isu strategis semacam kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, yang dampaknya masih dirasakan sampai hari ini.

Di satu sisi, penulis mengamini pernyataan Amien Rais meski di sisi lain penulis juga mempertanyakan mengapa Partai Amanat Nasional, yang sedikit banyaknya berada di bawah bayang-bayang Amien Rais, ikut-ikutan menjadi stempel dari berbagai kebijakan pemerintah. Dan seperti apakah relasi ideal PresidenParlemen yang ideal dalam politik ketatanegaraan kita?. Satu pertanyaan terasa kian penting untuk dijawab, ditengah upaya reformasi ketatanegaraan secara komprehensif.

Relasi Presiden-Parlemen

Pengalaman kita sebagai bangsa telah lengkap menghadirkan potret relasi presiden dengan parlemen. Di masa Presiden Soeharto, hubungan presiden-DPR amatlah kolutif. Presiden seakan atasan langsung DPR. Apa pun kebijakan Soeharto akan disambut paduan suara yes man di DPR dam MPR. Akibatnya, soeharto bertahan hingga lebih dari 31 tahun.

Pada esktrem lain, di masa Presiden Abdurrahman Wahid, relasi presidenparlemen amatlah konfrontatif. Presiden Wahid gagal membangun hubungan yang solid di DPR. Sebaliknya, ia terus berkonflik dengan parlemen. Akibatnya, masa kepresidenan Wahid hanya satu setengah tahun.

Baik hubungan yang kolutif maupun konfrontatif sama-sama bukan relasi ideal antara prseiden-parlemen. Keduanya seharusnya membangun hubungan yang saling control dan saling imbang (cheks and balances), yaitu hubungan yang konstruktif untuk bersama-sama mendorong agenda pembangunan bangsa dengan tetap membuka pintu bagi perbedaan pendapat dan ruang untuk saling mengingatkan.

Relasi yang konstruktif itulah yang sedikit banyak terjadi di masa Presiden Susilo Bambang Yudhono (SBY). Sebagai Presiden minoritas (minority presiden), SBY yang hanya didukung tujuh persen suara di DPR cukup berhasil mengelola irama konfliknya dengan DPR.

Memang dala isu makro politik, DPR terlihat knock out di hajar serangan beruntun sang presiden. Namun, dibandingkan masa presiden Soeharto, tidak sedikit perbedaan pendapat yang berani dilontarkan oleh anggota DPR, khususnya dalam masalah mikro politik.

Namun, kekritisan pada isu mikro itu, misalnya dalam penyusunan pasal undang-undang, dan kritisnya pertanyaan-pertanyaan dalam dengar pendapat dengan pemerintah, cenderung tenggelam secara perlahan setelah pemberitaan media masa, terutama dalam isu-isu populis, DPR sering pasrah kepada kebijakan Presiden.

Kepasrahan itu karena koalisi yang di bangun SBY lebih solid dibandingkan dengan poros tengah yang sempat mendukung Wahid. Pada hal, Presiden Wahid mempunyai modal awal lebih besar, yaitu pasukan berani mati PKB yang menduduki 11 persen kursi DPR. Walaupun, dalam beberapa kebijakan tertentu, misalnya kenaikan harga minyak, Presiden takhluk juga dihujani kritik pedas oleh DPR.

Gaya kepemimpinan SBY yang lebih akomodatif, dibandingkan dengan Wahid yang lebih destruktif, menyebabkan hasil akhir relasi Presiden dan parlemen berbeda meski keduanya sama-sama presiden minoritas. Hal itu membuktikan sistem ketatanegaraan kita masih kental diwarnai gaya personal sang pemimpin.

Menurut Denny Indrayana (Kompas, 20/2/06) sistem ketatanegaraan yang personal sebaiknya dihindari. Kedepan sistem politik kita harus lebih bersandar kepada sistem yang demokratis, bukan kepada orang . itu berarti diperlukan rekayasa konstitusi untuk membangun hubungan Presiden -parlemen yang lebih konstruktif dan dinamis. Sistem yang demikian bisa dibangun dengan mengadopsi beberapa sistem ketatanegaraan.

Pertama, penyederhanaan sistem kepartaian. Ke depan sistem multi partai harus didorong untuk lebih ramping. Persyaratan electoral threshold bai suatu partai untuk dapat mengikuti pemilu adalah kebijakan yang tepat yang sudah diadopsi undang-undang pemilu.

Gejalah untuk menggunakan jalan keluar lewat penyederhanaan sistem kepartaian ini telah nampak, ketika pengesahan Undangundang pemilihan Presiden yang terkait mengenai besarnya persentase dukungan dari partai politik atau gabungan partai politik untuk mengusulkan pasangan calon presiden dan wakil presiden harus memenuhi persentase perolehan kursi paling sedikit 20 persen kursi DPR-RI atau memperoleh 25 persen suara sah secara nasional dalam pemilu anggota DPR-RI (Singgalang, 30/10/08). Kalaulah di DPR itu ada 560 kursi maka partai politik atau gabungan partai politik harus memperoleh sebanyak 112 kursi baru dapat tiket bagi partainya untuk mencalon diri sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.

Menurut Ketua Pansus RUU Pilpres Ferry Mursyidan Baldan adalah besarnya persentase dukungan ini lebih dimaksudkan untuk menciptkan sebuah pemerintahan presidensil yang kuat dan efektif. Tujuannya adalah untuk bisa mencapai sebuah penyelenggaraan pemerintahan negara yang optimal dalam dalam melakukan berbagai tugas kenegaraan dan pemerintahan.

Dan yang lebih penting lagi adalah agar supaya presiden dan wakil presiden terpilih tidak hanya memperoleh legitimasi dari rakyat secara langsung namun juga memeliki basis dukungan yang kuat di DPR sebagai mitra dalam menyelenggarakan pemerintahan secara keseluruhan melalui berbagai perumusan kebijakan.

Sistem multipartai yang sederhana akan lebih memungkinkan hadirnya relasi presiden -parlemen yang konstruktif. Sistem multi partai yang kompleks cenderung tidak cocok demngan sistem pemerintahan presidensial dan cenderung menghadirkan presiden sial senasib presiden Gus Dur. Sebaliknya, sistem satu partai yang terlalu dominan, sebagaimana Golkar di masa Orde Baru, melahirkan Presiden yang otoriter.

Kedua, koalisi yang dibangun dalam sistem pemerintahan harus didorong menjadi koalisi pas terbatas (minimal winning coalition), bukan kolaisi yang kebesaran (oversized coalition) atau koalisi kekecilan (undesized coalition). Koalisi yang kekecilan akan memunculkan presiden yang sial, sedangkan koalisi yang kebesaran berpotensi menciptakan presiden yang "sialan". Sedangkan koalisi pas terbatas adalah koalisi yang dibangun dengan maksud menciptakan pemerintahan yang solid tetap memberikan ruang kepada oposisi yang juga bergigi.

Jika di DPR kini ada 550 kursi, berarti koalisi pas terbatas akan menguasai sekitar 300 kursi dan menyisakan 250 kursi partai lain sebagai oposisi guna mengingatkan presiden agar tidak salah dalam melangkah.

Kedodoran

Sayang, koalisi pemerintahan sekarang dengan masuknya orang-orang partai demokrat. Golkar, PAN, PBB, PPP, PKS, bahkan PKB dalam kabinet menyebabkan SBY menciptakan koalisi kedodoran. Itulah mengapa DPR dalam isu-isu strategis menjadi sering kehilangan daya tenaga karena mayoritas mutlak partai sudah dirangkul presiden.

Untuk menghindari presiden terlalu leluasa membangun koalisi yang hanya membagi kekuasaan semata, perlu terus di dorong lahirnya undang-undang kementrian negara yang di dalamnya mengatur departemen apa yang sewajibnya ada atau tiada.

Dengan demikian pembentukan kabinet tidak selalu menjadi komoditas dagangan presiden untuk menarik dukungan politik dari partai-partai yang tidak jarang memang hanya mengejar kursi elit kementrian semata. Tapi yang jelas adalah apa pun relasi presiden dengan parlemen, sekutu atau seteru yang tetap harus ada ialah rakyat yang terus mengntrol tingkah laku keduanya. Bagaimanapun republik ini milik kita, bukan milik presiden atau segelintir elit di Senayan.

*** Penulis adalah: Staf pengajar di STIH YAPPAS Lubuk Sikaping, dan Peneliti di Yayasan Bina Mulia (YABIM) Pasaman.

LAMPIRAN II (tulisan Denny Indrayana yang diplagiat)

Presiden dan DPR, Sekutu atau Seteru?
Oleh: Denny Indrayana

--------------------------------------------------------------------------------

Amien Rais mengatakan, DPR cenderung kembali menjadi stempel pemerintah. Kerisauan Amien Rais agaknya bermula dari kurang kritisnya DPR dalam menyikapi kebijakan pemerintah dalam beberapa isu strategis semacam kenaikan harga BBM dan kebijakan impor beras.

Di satu sisi, saya relatif mengamini pernyataan Amien Rais meski di sisi lain saya juga mempertanyakan mengapa Partai Amanat Nasional, yang sedikit banyak masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais, ikut- ikutan menjadi stempel dari berbagai kebijakan pemerintah.

Relasi presiden-parlemen

Pengalaman kita sebagai bangsa telah lengkap menghadirkan potret relasi presiden dengan parlemen. Di masa Presiden Soeharto, hubungan presiden-DPR amatlah kolutif. Presiden seakan atasan langsung DPR. Apa pun kebijakan Soeharto akan disambut paduan suara yes man di DPR dan MPR. Akibatnya, Soeharto bertahan hingga lebih dari 32 tahun.

Pada ekstrem lain, di masa Presiden Abdurrahman Wahid, relasi presiden-parlemen amat konfrontatif. Presiden Wahid gagal membangun dukungan yang solid di DPR. Sebaliknya, ia terus berkonflik dengan parlemen. Akibatnya, masa kepresidenan Wahid hanya satu setengah tahun.

Baik hubungan yang kolutif maupun konstruktif sama-sama bukan relasi ideal antara presiden dan parlemen. Keduanya seharusnya membangun hubungan yang saling kontrol dan saling imbang (checks and balances), yaitu hubungan yang konstruktif untuk bersama-sama mendorong agenda pembangunan bangsa dengan tetap membuka pintu bagi perbedaan pendapat dan ruang untuk saling mengingatkan.

Relasi yang konstruktif itulah yang sedikit banyak terjadi di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagai presiden minoritas (minority president), SBY yang hanya didukung modal awal tujuh persen suara di DPR cukup berhasil mengelola irama konfliknya dengan DPR.

Memang dalam isu makropolitik, DPR terlihat knock out dihajar serangan beruntun sang presiden. Namun, dibandingkan masa Presiden Soeharto, tidak sedikit perbedaan pendapat yang berani dilontarkan oleh anggota DPR, khususnya dalam masalah mikropolitik. Namun, kekritisan pada isu-isu mikro itu, misalnya dalam penyusunan pasal undang- undang, dan kritisnya pertanyaan-pertanyaan dalam dengar pendapat dengan pemerintah, cenderung tenggelam secara berlahan setelah pemberitaan media masa, terutama karena dalam isu-isu populis, DPR sering pasrah kepada kebijakan Presiden.

Kepasrahan itu karena koalisi yang dibangun SBY lebih solid dibandingkan dengan Poros Tengah yang sempat mendukung Wahid. Padahal, Presiden Wahid mempunyai modal awal lebih besar, yaitu pasukan berani mati PKB yang menduduki 11 persen kursi DPR.

Gaya kepemimpinan SBY yang lebih akomodatif, dibandingkan dengan Wahid yang lebih destruktif, menyebabkan hasil akhir relasi presiden dan parlemen menjadi berbeda meski keduanya sama-sama presiden minoritas. Hal itu membuktikan sistem ketatanegaraan kita masih kental diwarnai gaya personal sang pemimpin.

Sistem ketatanegaraan yang personal itu sebaiknya dihindari. Ke depan sistem politik kita harus lebih bersandar kepada sistem yang demokratis, bukan kepada orang. Itu berarti diperlukan rekayasa konstitusi (constitutional engineering) untuk membangun hubungan presiden dan parlemen yang lebih konstruktif dan dinamis. Sistem demikian bisa dibangun dengan mengadopsi beberapa sistem ketatanegaraan.

Pertama, penyederhanaan sistem kepartaian. Ke depan sistem multipartai harus didorong untuk lebih ramping. Persyaratan electoral threshold bagi suatu partai untuk dapat mengikuti pemilu adalah kebijakan tepat yang sudah diadopsi undang-undang pemilu.

Sistem multipartai yang sederhana akan lebih memungkinkan hadirnya relasi presiden parlemen yang konstruktif. Sistem multipartai yang kompleks cenderung tidak cocok dengan sistem pemerintahan presidensial dan cenderung menghadirkan ”presiden sial” senasib Presiden Gus Dur. Sebaliknya, sistem satu partai yang terlalu dominan, sebagaimana Golkar di masa Orde Baru, melahirkan presiden yang otoriter.

Kedua, koalisi yang dibangun dalam sistem pemerintahan harus didorong menjadi koalisi pas-terbatas (minimal winning coalition), bukan koalisi yang kebesaran (oversized coalition) atau koalisi kekecilan (undersized coalition). Koalisi yang kekecilan akan memunculkan presiden yang sial, sedangkan koalisi yang kebesaran berpotensi menciptakan presiden yang ”sialan”. Sedangkan koalisi pas-terbatas adalah koalisi yang dibangun dengan maksud menciptakan pemerintahan yang solid tetapi tetap memberikan ruang kepada oposisi yang juga bergigi.

Jika di DPR kini ada 550 kursi, berarti koalisi pas-terbatas akan menguasai sekitar 300 kursi dan menyisakan 250 kursi partai lain sebagai oposisi guna mengingatkan presiden agar tidak salah melangkah.

Kedodoran

Sayang, koalisi pemerintahan sekarang dengan masuknya orang-orang Partai Demokrat, Golkar, PBB, PAN, PPP, PKS, bahkan PKB dalam kabinet menyebabkan SBY menciptakan koalisi kedodoran. Itulah mengapa DPR dalam isu-isu strategis menjadi sering kehilangan daya tenaga karena mayoritas mutlak partai sudah dirangkul presiden.

Untuk menghindari presiden terlalu leluasa membangun koalisi yang hanya membagi kekuasaan semata, perlu terus didorong lahirnya Undang-Undang Kementerian Negara yang di dalamnya mengatur departemen apa yang sewajibnya ada atau tiada.

Dengan demikian, pembentukan kabinet tidak selalu menjadi komoditas dagangan presiden untuk menarik dukungan politik dari partai-partai yang tidak jarang memang hanya mengejar kursi elite kementerian semata.

Apa pun relasi presiden dengan parlemen, sekutu ataukah seteru, yang tetap harus ada ialah rakyat yang terus mengontrol tingkah laku keduanya. Bagaimanapun republik ini adalah milik kita, bukan milik presiden atau segelintir elite di Senayan.

URL Source: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0602/20/opini/2447798.htm

Denny Indrayana
Ketua Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum UGM; Direktur Indonesian Court Monitoring

LAMPIRAN III (tulisan hasil plagiat)

Seandainya SBY-JK Terpilih Kembali
Artikel Politik Kamis, 05/02/2009 - 09:11 WIB

Oleh : Zennis Helen, SH 232 klik

Menimbang SBY-JK terpilih kembali dalam kontes presidensial tahun 2009 memang agak terlalu dini diketengahkan ke hadapan publik. Karena pertarungan Pilpres masih lama dan akan dilaksanakan kira-kira di bulan Juli, dilaksanakan setelah Pemilu legislatif selesai. Menurut jadwal yang disusun oleh KPU Pemilu Legilatif dilaksanakan pada bulan April 2009. Menurut penulis, secara analisis politik sederhana, tidak ada salahnya kita mencoba mengkalkulasikan secara hitungan politik, kemungkinan SBY-JK terpilih kembali dalam pemilu presidensial yang akan datang. Pada tahun 2009 politik tidak linear. Artinya, konstelasi politik akan bersifat dinamis dan selalu berubah-rubah dan perubahannya akan cepat sekali.

Gerakan yang dilakukan oleh beberapa partai besar untuk mendukung kembali duet SBY-JK untuk terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 telah muncul ke permukaan. Buktinya, bakal embrio koalisi mulai terlihat. Empat partai politik besar, yaitu Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, PKB terlihat menjajaki kemungkinan "penyatuan kekuatan". Tujuannya, menyukseskan terpilihnya kembali SBY-JK. Tentu saja embrio tersebut masih terlalu rapuh untuk dilihat sebagai cikal bakal koalisi. Namun, setidaknya perkembangan tersebut mencerminkan kesadaran dari partai-partai akan adanya paksaan undang-undang yang mengharuskan mereka membentuk koalisi.

Jika mendasarkan perhitungan pada hasil Pemilu 2004, kekuatan gabungan keempat partai tersebut jauh melebihi batas minimum syarat dukungan gabungan partai yang ingin mengusung calon presiden. Bahkan, gabungan suara keempat partai tersebut pada Pemilu 2004 mencapai 48,2 persen. Dengan pertimbangan bahwa tiga dari empat partai tersebut, yaitu Golkar, PPP dan PKB memeliki pendukung tradisional yang captive, koalisi tersebut dapat dipastikan mampu meloloskan SBY-JK dari "lubang jarum ". Dengan demikian, langkah SBY-JK untuk kembali duduk di kursi kekuasaan tampaknya semakin terbuka lebar. Lantas, bagaimanakah konstelasi politik dapat dibaca? Bagaimana perkembangan perbandingan kekuatan-kekuatan politik menuju pemilihan presiden? Siapa yang bakal menjadi pesaing SBY-JK untuk Pilpres 2009?.

Oportunis

Konstelasi politik dapat dilihat sebagai tiga kelompok kekuatan, yaitu supporter, spoiler, dan free riders (Sukardi Rinakit). Supporter berhadapan dengan spoiler. Adapun free riders, pada saat dinamika politik telah memperlihatkan "endapan", akan merapat kepada kelompok pemenang. Teori tersebut dapat diterapkan pada konstelasi politik sekarang. Menurut Toto Sugiarto (Kompas, 7/1) yang dilihatnya dari perspektif SBY, terdapat tiga kelompok politik dalam Pilpres 2009. Pertama, Supporter, akar tunggang bagi kelompok ini adalah Partai Demokrat. Dengan asumsi tercapainya koalisi empat partai ini, berdasarkan hasil pemilu 2004, kekuatan supporter amat kuat.

Kedua, Spoiler. Dengan mempertimbangkan persyaratan bagi partai politik atau gabungan partai politik untuk mencalonkan presiden, spoiler bisa terdiri dari satu atau dua kubu politik. Spoiler kubu pertama di Pilpres 2009 adalah PDI-P. Sebagai kekuatan politik oposisi, PDI-P berkepentingan mengalahkan SBY dan mendudukkan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI 2009-2014. Berdasarkan persyaratan undang-undang, akan lebih aman bagi Megawati jika PDI-P melakukan langkah membangun koalisi sejak dini. Sedangkan, kubu kedua dalam spoiler hanya bisa terwujud jika koalisi yang dibangun baik oleh supporter atau oleh spoiler tidak terlalu besar. Dengan demikian, masih tersisa persentase yang mencukupi syarat minimal bagi pengajuan capres.

Ketiga, free riders adalah pihak yang meraup untung dari kontestasi di Pilpres 2009. Kelompok free riders ini bisa dikatakan kelompok oportunis. Mereka tidak mengambil sikap sampai tercapai kondisi mendekati titik ekuilibrium dinamika politik, yaitu pada saat dinamika politik telah menghasilkan "endapan". Kelompok ini biasanya bukan penentu kemenangan, melainkan hanya sebagai penambah kekuatan sang pemenang.

Bukan Jaminan

Jika politik bergerak linear, semesta politik tampak mulai berpihak pada kubu SBY-JK. Dengan kekuatan mendekati 50 persen suara pemilu 2004, akan banyak "laron politik" mendekat. SBY-JK akan semakin aman, sementara Megawati atau capres ketiga akan semakin terperosok dalam jebakan politik berbahaya. Namun, untuk masalah kemenangan. politik para era demokrasi tidak berjalan linear. Seandainya kelompok politik pendukung SBY-JK berhasil membesarkan dirinya sehingga menjadi kelompok politik dominan sekalipun, bukan jaminan bagi tetap tergenggamnya kekuasaan.Bahkan, jika koalisi supporter menjadi terlalu dominan akan muncul keserakahan dan rekayasa jahat menutup kesempatan bagi calon lain. Di titik ini, kekuatan koalisi akan berubah menjadi kelemahan.

Politik di era demokrasi adalah seperti permainan sepak bola, sebelum permainan berakhir, hasil akhir belum bisa dipastikan. Kemenangan bergantung bukan kepada besarnya koalisi , melainkan ditentukan oleh strategi memasukkan bola ke gawang, dalam hal ini ke dalam rasio pemilih . Perihal yang terakhir ini, sifatnya amat tidak linear.

Titik Pertemuan

Kemenangan dalam Pilpres 2009 lebih merupakan hasil dari terciptanya titik pertemuan antara kehendak baik calon presiden dan rasionalitas publik. Dengan kata lain, kehendak baik capres harus identik dan terbaca publik. Rasionalitas publik menghendaki terciptanya kebaikan umum, yaitu kebaikan bagi rakyat dan negara. Jika rasionalitas publik mengatakan bahwa capres tertentu benar-benar memeliki kehendak yang sama dengan dirinya, yaitu berkehendak untuk benar-benar memperjuangkan kebaikan umum, niscaya akan mendapat simpati dan dukungan.

Sebagai incumbent, SBY-JK memeliki keuntungan, baik itu dari segi popularitas maupun program-program yang telah terealisasi yang bersentuhan langsung dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Pada sisa waktu yang tidak panjang, pemerintahan SBY cukup membuat kebijakan-kebijakan yang produktif bagi penciptaan kebaikan umum. Beberapa program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat miskin dan untuk kebaikan umum, adalah PPIP (Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan) yang berada dibawah naungan Dinas Pekerjaan Umum, PAMSIMAS yang merupakan program sanitasi/air bersih yang besifat lintas sektoral (Departemen Kesehatan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Dalam Negeri), P2KP (Program Pengentasan Kemiskinan Perkotaan) yang berada dibawah naungan Dinas Pekerjaan Umum.

Ketika meresmikan beberapa proyek di daerah maka dapat dikemas pula dalam bentuk kampanye. Hal ini akan menambah popularitas dan simpati masyarakat pada SBY. Semua program diatas bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan derjat kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik. Mengentaskan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja merupakan tujuan utama program itu. Semua program ini mendapat respon yang positif dari masyarakat. Maka setelah itu, titik pertemuan pun dengan sendirinya akan tercipta.

Sementara bagi spoiler, upaya penciptaan titik pertemuan hanya bisa dilakukan dengan pembentukan opini. Mereka mengatakan "akan" meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden 20092014, sedangkan SBY-JK mengatakan "telah" berbuat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut. Megawati atau capres alternatif lain harus bisa menawarkan janji politik yang bisa meyakinkan publik bahwa jika terpilih akan bekerja untuk penciptaan kebaikan umum, bukan demi kepentingan pribadi. Karena itu, janji politik harus detail dan terukur.

*Penulis adalah Dosen STIH YAPPAS dan Peneliti di Yayasan Bina Mulia (YABIM) Pasaman

Lampiran IV (Tulisan Toto Sugiarto yang diplagiat)

Tahun 2009, Politik Tidak Linier
Toto Sugiarto

Bakal embrio koalisi mulai terlihat. Empat partai politik, yaitu Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, dan PKB terlihat menjajaki kemungkinan ”penyatuan kekuatan”. Tujuannya, menyukseskan terpilihnya kembali SBY-JK.

Tentu saja embrio tersebut masih terlalu rapuh untuk dilihat sebagai cikal bakal koalisi. Namun, setidaknya perkembangan tersebut mencerminkan kesadaran dari partai-partai akan adanya ”paksaan” undang-undang yang mengharuskan mereka membentuk koalisi.

Jika mendasarkan perhitungan pada hasil Pemilu 2004, kekuatan gabungan keempat partai tersebut jauh melebihi batas minimum syarat dukungan gabungan partai yang ingin mengusung calon presiden. Bahkan, gabungan suara keempat partai tersebut pada Pemilu 2004 mencapai 48,2 persen.

Dengan pertimbangan bahwa tiga dari empat partai tersebut, yaitu Partai Golkar, PPP, dan PKB memiliki pendukung tradisional yang captive, koalisi tersebut dapat dipastikan mampu meloloskan SBY-JK dari ”lubang jarum”. Dengan demikian, langkah SBY-JK untuk kembali duduk di kursi kekuasaan tampaknya semakin terbuka lebar.

Lantas, bagaimanakah konstelasi politik dapat dibaca? Bagaimana perkembangan perbandingan kekuatan-kekuatan politik menuju pemilihan presiden? Siapa yang bakal menjadi pesaing SBY-JK untuk Pilpres 2009?

Oportunis

Konstelasi politik dapat dilihat sebagai tiga kelompok kekuatan, yaitu supporter, spoiler, dan free riders (Sukardi Rinakit). Supporter berhadapan dengan spoiler. Adapun free riders, pada saat dinamika politik telah memperlihatkan ”endapan”, akan merapat pada kelompok pemenang.

Teori tersebut dapat diterapkan pada konstelasi politik sekarang. Dilihat dari perspektif SBY, terdapat tiga kelompok politik dalam Pilpres 2009. Pertama, supporter. Akar tunggang bagi kelompok ini adalah Partai Demokrat. Dengan asumsi tercapainya koalisi empat partai, berdasarkan hasil Pemilu 2004, kekuatan supporter amat kuat.

Kedua, spoiler. Dengan mempertimbangkan persyaratan bagi partai politik atau gabungan partai politik untuk mencalonkan presiden, spoiler bisa terdiri dari satu atau dua kubu politik. Spoiler kubu pertama di Pilpres 2009 adalah PDI-P. Sebagai kekuatan politik oposisi, PDI-P berkepentingan mengalahkan SBY dan mendudukkan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI 2009-2014. Berdasarkan persyaratan undang-undang, akan lebih aman bagi Megawati jika PDI-P melakukan langkah membangun koalisi sejak dini.

Kubu kedua dalam spoiler hanya bisa terwujud jika koalisi yang dibangun baik oleh supporter atau oleh spoiler tidak terlalu besar. Dengan demikian, masih tersisa persentase yang mencukupi syarat minimal bagi pengajuan capres.

Ketiga, free riders adalah pihak yang akan meraup untung dari kontestasi di Pilpres 2009. Kelompok free riders ini bisa dikatakan sebagai kelompok oportunis. Mereka tidak mengambil sikap sampai tercapai kondisi mendekati titik ekuilibrium dinamika politik, yaitu pada saat dinamika politik telah menghasilkan ”endapan”. Kelompok ini biasanya bukan penentu kemenangan, melainkan hanya sebagai penambah kekuatan sang pemenang.

Bukan jaminan

Jika politik bergerak linier, semesta politik tampak mulai berpihak pada kubu SBY-JK. Dengan kekuatan mendekati 50 persen suara Pemilu 2004, akan banyak ”laron politik” mendekat. SBY-JK akan semakin ”aman”, sementara Megawati atau capres ketiga akan semakin terperosok dalam ”jebakan politik berbahaya”.

Namun, untuk masalah kemenangan, politik pada era demokrasi tidak berjalan linier. Seandainya kelompok politik pendukung SBY-JK berhasil membesarkan dirinya sehingga menjadi kelompok politik dominan sekalipun, bukan jaminan bagi tetap tergenggamnya kekuasaan. Bahkan, jika koalisi supporter menjadi terlalu dominan akan muncul kesan keserakahan dan rekayasa jahat menutup kesempatan bagi calon lain. Di titik ini, kekuatan koalisi akan berubah menjadi kelemahan.

Politik di era demokrasi adalah seperti permainan sepak bola, sebelum permainan berakhir, hasil akhir belum bisa dipastikan. Kemenangan bergantung bukan pada besarnya koalisi, melainkan ditentukan oleh strategi memasukkan bola ke gawang, dalam hal ini ke dalam rasio pemilih. Perihal yang terakhir ini, sifatnya amat tidak linier.

Titik pertemuan

Kemenangan dalam Pilpres 2009 lebih merupakan hasil dari terciptanya titik pertemuan antara kehendak baik calon presiden dan rasionalitas publik. Dengan kata lain, kehendak baik capres harus identik dan terbaca publik.

Rasionalitas publik menghendaki terciptanya kebaikan umum, yaitu kebaikan bagi rakyat dan negara. Jika rasionalitas publik mengatakan bahwa capres tertentu benar-benar memiliki kehendak yang sama dengan dirinya, yaitu berkehendak untuk benar-benar memperjuangkan kebaikan umum, niscaya akan mendapat simpati dan dukungan.

Sebagai incumbent, SBY-JK memiliki keuntungan. Pada sisa waktu yang tidak panjang, pemerintahan SBY cukup membuat kebijakan-kebijakan yang produktif bagi penciptaan kebaikan umum. Setelah itu, titik pertemuan pun dengan sendirinya akan tercipta.

Sementara bagi spoiler, upaya penciptaan titik pertemuan hanya bisa dilakukan dengan pembentukan opini. Megawati atau capres alternatif lain harus bisa menawarkan janji politik yang bisa meyakinkan publik bahwa jika terpilih akan bekerja untuk penciptaan kebaikan umum, bukan demi kepentingan pribadi. Karena itu, janji politik harus detail dan terukur.

Toto Sugiarto Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate

courtesy: http://www.padangtoday.com

Pol PP Bongkar Paksa Warung di Pantai Purus

Pol PP bongkar paksa warung di pantai Purus

Padangnews.com- Padang Today Melaporkan Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kota Padang, Selasa sore sekitar pukul 18.00 tadi kembali melakukan penertiban terhadap pedagang kaki lima (PKL) dan kafe-kafe yang ada disepanjang pantai Purus. Bahkan, mereka tak segan-segan langsung membongkar paksa warung-warung tersebut. Namun, sayangnya PKL banyak yang kecewa karena dalam penertiban itu seakan tebang pilih.

Mereka menilai kebijakan Pemko Padang, membongkar tempat usaha mereka sama dengan membunuh rakyat miskin. Sebab, ribuan nyawa bergantung pada lapak-lapak yang mereka miliki."Sebanyak lebih kurang 150 KK yang berjualan menggantungkan hidupnya berjualan disini, dan pada umumnya suami kami pengangguran, bukan soal perut yang kami pikirkan, tapi masalah pendidikan anak- anak kami yang dipikirkan saat ini. jangan siksa lagi rakyat miskin ini," ratap Net, (47) PKL setempat.

"Kami juga tidak ingin berjualan di sini, dan kami tidak ingin menjadi PKL.Tapi kami dan anak-anak kami perlu makan," ungkap salah seorang PKL Net 47 tahun. Dia marah saat petugas membongkar habis lapak-lapaknya.Bukan soal perut yang kami pikirkan, tapi masalah pendidikan anak- anak kami yang dipikirkan saat ini. jangan siksa lagi rakyat miskin ini.

Net dan PKL lainnya mengaku tidak mengatahui apa maksud sebenarnya Pemko Padang membongkar tempat usaha mereka itu, meski mencoba mempertahankan bangunnya, tetap saja warga purus ini tidak bisa membendung ratusan anggota yang turun kelapangan.Saat petugas merobohkan usahanya, warga hanya bisa melawan dengan kata-kata.

Manyoritas PKL yang berada di pantai purus itu adalah warga pribumi asli. Dari pengakuan para PKL ini, pada saat mereka berjualan mereka selalu dipungut retribusi oleh Dinas Pariwisata Padang, sebanyak Rp3000 per hari.

Selain itu, mereka juga mengeluhkan kredit mereka yang belum terbayar lunas. Katanya, kebanyakan barang-barang yang ada di lapak-lapak itu seperti payung tenda dan peralatan masak lainnya adalah hasil kredit. "Dengan apa lagi kami membayar hutang kredit yang banyak ini, belum lg memikirkan kebutuhan sekolah anak-anak," ungkap pedagang lainnya.

Meski pasrah tapi tak rela, warga masih berharap janji Pemko padang yang mengatakan bahwa mereka bisa berjualan lagi setelah tanggal 14 April nanti. Mereka juga sepakat, jika waktu yang dijanjikan itu tiba, dan mereka belum juga diperbolehkan berjualan, akan mendirikan lapak mereka kembali, meski harus bertentangan dengan petugas pemerintah.

Sementara itu, Kakan Sat Pol PP Padang Yadrison mengatakan, pihaknya sudah sering memberikan teguran dan peringatan agar lokasi tersebut di kosongkan. Bahkan sudah lebih dari satu bulan lamanya.Karena belum juga di indahkan, terpaksa pihaknya melakukan tindakan pembongkaran.

Katanya, beberapa pedangan yang patuh, secara sukarela sudah pembongkaran cafe-cafe dan tenda miliknya. Pembongkaran tesebut dilakukannya setelah adanya surat edaran dan sosialisasi dari pemko Padang dan Dinas Pariwisata Kota Padang, tentang program mengantisipasi dan kesiap siagaan masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam di Kota Padang.[courtesy: http://www.padangtoday.com]

[ Red/Revdi Iwan Syahputra ]

Sabtu, 02 April 2011

BI Diminta Tertibkan Debt Collector

Ismoko Widjaya, Suryanta Bakti Susila

Tiga tersangka penganiayaan Irzen Octa (VIVAnews/ Nila Chrisna)
BERITA TERKAIT

Padangnews - Tiga orang debt collector yang juga karyawan outsourcing Citibank ditahan polisi, karena diduga menganiaya nasabah kartu kredit hingga menyebabkan korban tewas.

Wakil Ketua Komisi XI DPR Bidang Perbankan, Achsanul Qosasi, menilai Bank Indonesia harus menertibkan dan mengatur tentang debt collector atau perusahaan-perusahaan penagih utang di perbankan. Apalagi masalah utang-piutang seharusnya tidak ditangani pihak ketiga.

"Ini harus ditertibkan. Ini harus diatur oleh Bank Indonesia. Kredit macet adalah resiko bank, jangan diserahkan ke pihak lain," kata Achsanul di gedung DPR, Jakarta, Jumat 1 April 2011.

Menurut politisi Demokrat ini, Bank Indonesia harus memiliki kriteria ketat untuk mengatur para penagih utang-piutang perbankan. Karena masalah utang-piutang itu terkait wanprestasi. Maka itu, untuk penagihan utang-piutang yang macet jangan dilakukan dengan cara-cara kekerasan. "Utang-piutang itu perdata. Jangan dilakukan dengan ancaman," ujar Achsanul.

Achsanul menyayangkan, maraknya penggunaan pihak ketiga untuk menangani masalah utang-piutang dalam dunia perbankan.

Padahal, kata dia, untuk masalah sepenting ini sebaiknya ditangani langsung bank terkait. "Karena utang-piutang itu bukan penipuan. Jadi sebaiknya ditangani langsung," ujar Sekretaris Departemen Perbankan DPP Partai Demokrat ini. Aturan soal debt collector ini, lanjut Achsanul, sekaligus menyehatkan buku perbankan. "Bank Indonesia harus turun tangan," ujar dia.

Dalam kasus ini, Irzen Octa yang juga Sekjen Partai Pemersatu Bangsa tewas pada Selasa 29 Maret lalu usai mendatangi kantor Citibank di Menara Jamsostek, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Manajemen Citibank menyerahkan persoalan tewasnya nasabah kepada kepolisian. Nasabah itu tewas setelah mempertanyakan tagihan kartu kreditnya di kantor Citibank.

"Polisi sedang melakukan penyelidikan terhadap kasus ini dan akan tidak pantas bagi kami untuk memberikan komentar lebih lanjut atas kasus ini," ujar Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia, Ditta Amahorseya, dalam surat elektronik kepada VIVAnews.com di Jakarta, Kamis, 31 Maret 2011.

• VIVAnews

FIFA Bekukan Federasi Sepakbola Bosnia

Markas FIFA di Zurich (guardian)
BERITA TERKAIT

Padangnews - Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) membekukan federasi sepakbola Bosnia-Herzegovina, Jumat, 1 April 2011. Langkah tegas ini diambil setelah Kongres Federasi Sepakbola Bosnia (FFBH) tidak mengadopsi statuta FIFA sesuai dengan instruksi FIFA dan EUFA.

Pengumumkan ini disampaikan lewat situs resmi FIFA, Jumat, 1 April 2011. Dalam rilisnya, FIFA mengatakan kalau pihaknya dan UEFA telah meminta agar FFBH mengadopsi Statuta FIFA paling lambat 31 Maret 2011. Bila gagal FFBH secara otomatis mendapat sanksi dari FIFA.

Kongres FFBH digelar di Sarajevo, Rabu, 29 Maret 2011. Forum melalui voting tidak menyetujui adanya amandemen terhadap Statuta FFBH. Dari 54 delegasi yang hadir, hanya 22 yang setuju untuk mengubah statuta lama.

Akibatnya, FFBH pun kehilangan hak keanggotannya di FIFA hingga pemberitahuan selanjutnya. FFBH dan klub-klub yang di bawahnya juga tidak diperbolehkan untuk mengikuti seluruh even internasional yang berada di bawah FIFA hingga masalah ini bisa terselesaikan.

FIFA juga melarang seluruh perwakilan FFBH untuk berpartisipasi di even internasional apapun yang berada di bawah kendali FIFA. FIFA dan UEFA juga mengaku sangat menyesal telah mengeluarkan keputusan ini dan berniat untuk segera bertemu dan mencari pemecahannya. (SJ)

• VIVAnews