Padangnews.com-Tewasnya Osama bin Laden diperkirakan akan memicu radikalisme baru. Intelijen di Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan dengan mempertajam jejaring. Hal itu ditegaskan Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letjen (purn) Kiki Syahnakri, di sela kunjungan kerja DPP Pepabri ke Akademi Kepolisian di Semarang, Selasa (3/5).
"Tewasnya Osama tidak berpengaruh banyak. Bahkan bisa memicu radikalisme yang harus diwaspadai. Apalagi teroris bergerak di bawah tanah dan selalu berbaur di lingkungan masyarakat," ujarnya.
Ia menegaskan, intelijen harus memperkuat jejaring untuk memangkas upaya-upaya radikal yang direncanakan para teroris. "Apalagi Polri sendiri mengatakan, yang sekarang ini generasi ketiga teroris. Artinya, rekrutmen berjalan bagus. Dari generasi ke generasi bertambah secara kualitas," tuturnya.
Menurut Kiki, jika dibandingkan dengan masa lalu, kerja intelijen saat ini sangat jauh berkurang. Salah satu unit yang perlu diperkuat adalah Badan Pengumpul Data, yang menjadi urat nadi intelijen. "Badan bisa bagus kalau jaringannya bagus. Sekarang jaringan intelijen tidak tajam. Yang harus dilakukan adalah membangun jaringan intelijen di masyarakat. Jaringan ini kemudian membentuk jejaring lagi," tukasnya. (Wta/O
Selasa, 03 Mei 2011
Tewasnya Osama Memicu Radikalisme Baru
Ternyata, Istri Osama tidak Tewas dalam Serangan Amerika
Padangnews.com-Seorang wanita tewas dalam serangan kepada Osama bin Laden tempat persembunyian di Pakistan itu bukan istrinya dan tidak digunakan sebagai perisai manusia oleh pemimpin Al Qaeda sebelum kematiannya.
Itu merupakan koreksi seorang pejabat AS, Senin (2/5), terhadap keterangan sebelumnya.
John Brennan, penasihat kontraterorisme Presiden Barack Obama, mengatakan kepada wartawan sebelumnya bahwa wanita yang dibunuh adalah salah satu istri bin Laden dan telah digunakan--mungkin secara sukarela--sebagai perisai hidup selama baku tembak tersebut.
Namun, seorang pejabat Gedung Putih lainnya membantahnya. Katanya, istri bin Laden terluka tapi tidak tewas dalam serangan itu.
Para pejabat AS mengatakan, sebuah tim penyerang kecil AS turun dengan helikopter ke tempat persembunyian bin Laden di dekat ibu kota Pakistan, Islamabad, di malam hari. Mereka menembak pemimpin Al-Qaeda mati dengan peluru ke dada dan kepala.
Osama tidak membalas tembakan. (Rtr/OL-5)
Rabu, 09 Februari 2011
Islam Naik Daun di Kalangan Etnis Latin di Amerika Serikat
Padangnews.com- NEW JERSEY - Pada suatu hari musim panas tahun lalu, Stefani Perada, gadis keturunan Latin (hispanik), tampil beda. Tak seperti teman-temannya yang memakai baju potongan pendek demi menghindari hawa panas, perempuan pekerja di West New York, NJ, ini justru mengenakan baju panjang, plus penutup kepala. Ya, dia memutuskan berjilbab setelah bersyahadat beberapa waktu sebelumnya.
Perada, 19, yang masuk Islam lebih dari setahun yang lalu, masih berusaha untuk menyesuaikan diri kepada kebiasaan tertentu. Berjilbab di musim panas, bukan tanpa tantangan baginya.
"Saya masih mempertimbangkan bagaimana teman dan keluarga akan melihat saya," katanya. "Mereka melihat kita seperti," Mengapa dia mengenakan itu, bukankah begitu panas'."
Tapi, katanya, ia beranikan diri untuk berubah. "Saya melakukan ini untuk Tuhan, dan suatu hari saya akan diberi imbalan atas apa yang saya lakukan."
Ada keuntungan langsung mengenakan jilbab, katanya. "Tidak dilecehkan oleh laki-laki sebanyak ketika sebelum berjilbab saat berjalan di jalan."
Perada tidak sendirian sebagai perempuan Hispanik yang menjadi mualaf. Jumlahnya kini cukup banyak, namun tak ada angka resmi yang menyebutkan. Pasalnya, Biro Sensus Amerika Serikat tidak mengumpulkan informasi tentang agama.
Namun, menurut perkiraan yang dilakukan oleh organisasi Islam nasional seperti Dewan Hubungan Islam Amerika (CAIR) dan Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) kini ada sekitar 40 ribu Latino Muslim di Amerika Serikat.
Demikian juga, sulit untuk mengetahui berapa jumlah pria dan wanita Latin yang kini menjadi mualaf. Tapi, menurut survei yang dilakukan oleh Latino American Dawah Organization (LADO), yang misinya adalah untuk mempromosikan Islam dalam komunitas Latin di Amerika Serikat, jumlah Latino yang memeluk Islam sedikit lebih banyak kaum perempuan dibanding laki-laki, dengan persentase 60:40.
Juan Galvan, kepala LADO di Texas dan salah satu penulis laporan "Muslim Latino: The Mengubah Wajah Islam di Amerika," menjelaskan bahwa angka-angka itu tidak ilmiah, namun berdasarkan hasil survei sukarela yang telah dilakukan di situs LADO sejak tahun 2001.
"Dari pengamatan dan pengalaman angka-angka tersebut benar," kata Galvan. "Dari pengalaman pribadi saya, ada pasti lebih Latina Muslim daripada pria Latino."
Di banyak masjid di AS, etnis Latin mendominasi. Di Islamic Education Center of North Hudson misalnya, dari 300 orang yang beryshadat menjadi Muslim tahun lalu, 80 persennya adalah etnis Latin.
Secara keseluruhan, kata Peter AWN, seorang profesor studi Islam di Universitas Columbia, tidak ada keraguan bahwa jumlah mualaf Latin sedang berkembang.
Louis Cristillo, seorang antropolog yang berfokus pada pendidikan Islam di Columbia University, menunjukkan ada beberapa indikator yang mencerminkan tren pertumbuhan Latin memeluk Islam.
Sebagai contoh, ada sejumlah organisasi regional dan nasional yang melayani Latino Muslim, dan bahkan ada kelompok-kelompok pendukung yang dapat ditemukan di dunia maya khusus untuk Latino yang ingin bertobat. Ia menyebut satu contohnya, yaitu www.hispanicmuslims.com dan latinodawah. org.
Bahkan, akhir pekan lalu, Latino Muslim di negara ini merayakan tahunan ketiga Hispanic Muslim Day dengan kegiatan yang berbeda sepanjang hari.
Sumber: LADO
Rabu, 12 Januari 2011
Perkembangan Islam di AS Mencegangkan, Setiap Tahun Ada 200 Ribu Mualaf
Padangnews.com-,Koran New York Times dalam sebuah laporannya, menyoroti perkembangan dan peningkatan pengaruh agama Islam di tengah berbagai lapisan masyarakat Amerika Serikat. Ditambahkannya, setiap tahun lebih dari 200 ribu orang di AS memeluk agama Islam.
Sebagaimana dilaporkan situs INN, Selasa (11/1), New York Times menulis, agama Islam terutama di kalangan para imigran dari Republik Dominican, Meksiko, Kuba dan Spanyol, mengalami perkembangan signifikan dan mayoritas orang-orang di AS yang memeluk Islam berasal dari Spanyol (Hispanik).
Seraya menjelaskan bahwa menurut sejumlah penelitian, lebih 200 ribu orang di AS memilih menjadi Muslim setiap tahunnya, New York Times menambahkan, salah seorang yang memutuskan memeluk Islam adalah Musa Franco, warga Kolumbia yang memilih agama Islam sejak usia 13 tahun.
Berdasarkan laporan ini, Miriam Celeste Colon, salah seorang perempuan Amerika yang memeluk Islam pada tahun 2002, mengatakan,"Saya telah mulai mendesain pakaian dengan metode Islami."
Rodriguez, yang memutuskan masuk Islam pada tahun 2009, telah memulai memakai pakaian Muslimah dan aktif menghadiri acara-acara keagamaan.
Sumber: IRIB/RM/SL